22
Jul
15

Membaca Bintang, Menanti Sang Fajar Bersama Garuda Indonesia

Penulis dan foto: Dzulfikri Putra Malawi

Seorang penyewa kuda di kawasan Kaldera Bromo

Seorang penyewa kuda di kawasan Kaldera Bromo

Tidak ada cara lain untuk menuju gunung Pananjakan demi melihat fajar menyingsing di ufuk timur menyinari indahnya kawasan gunung taman nasional Bromo Tengger Semeru selain dengan kendaraan bergardan ganda.

Segelas teh panas dan mie instan sedikit menghangatkan badan malam itu sebelum beranjak ke dalam penginapan rumah warga yang disewa seharga Rp.400 ribu permalam yang lengkap dengan fasilitas air panas di dalam kamar mandi. Tepat pukul 01.00 WIB dini hari, seseorang mengetuk pintu.

Ternyata pria berbadan besar yang mukanya ditutupi dengan masker dan berselimut kain sarung adalah supir Jip yang sudah saya pesan saat di warung kopi tadi. Dari hasil negosiasi yang saya lakukan dengan pria kelahiran Probolinggo bernama Hari, harga Rp.600 ribu telah disepakati.

Namun bila bukan akhir pekan atau musim liburan, biasanya Jip tersebut mamatok harga Rp.400 ribu. Kedatangan saya bertepatan dengan helatan Jazz Gunung yang mendatangkan lebih dari seribu  penonton dari berbagai kota. Mereka tidak hanya ingin menikmati pertunjukkan jazz tapi juga ingin menikmati eksplorasi kawasan Bromo dengan jip. Otomatis harga yang ditawarkan para penyedia jasa petualangan alam Bromo ini meningkat.

Para penyedia jasa jip ini tidak berkantor seperti tempat wisata kota besar yang sudah tertata. Mereka biasanya mangkal di sekitar keramaian karena kebanyakan pemiliknya dari warga sekitar atau para pekerja yang mengandalkan setoran kepada majikan pemilik jip.

Untuk itu wisatawan  harus berhati-hati dengan keberadaan calo yang memanfaatkan momen keramaian. Harga yang ditawarkan calo cukup signifikan, mereka mengambil untuk Rp.200 ribu dari harga yang ditawarkan supir. “Biasanya mereka memang mengaku punya mobil dan meminta bayaran di muka. Kalau bisa tanya saja sama yang mangkal supirnya mana, jadi bisa nego harga langsung,” saran Hari.

Selain di keramaian, para jip ini juga biasanya berpencar ke tempat-tempat penginapan. Ada juga agen wisata yang sudah memesannya terlebih dahulu. Jika wisatawan memiliki relasi penyewaan jip, ada baiknya memesan sebelum tiba di Bromo untuk mendapatkan harga terbaik.

Kalau dihitung-hitung jumlah jipnya yang rata-rata jenis hardtop merek Jepang ini lebih dari seribu. “Itu untuk satu kabupaten saja, kalau digabung dengan kabupaten lain bisa makin banyak lagi,” ujar Hari. Jenis mobil tersebut memang dikenal mampu menembus medan ekstrim.

Para pemburu sang fajar menanti sejak dini hari di bukit Kinkong

Para pemburu sang fajar menanti sejak dini hari di bukit Kinkong

MEMULAI PETUALANGAN

Satu jip mampu ditumpangi lima orang wisatawan untuk memulai petualangan. Jadi harga yang ditawarkan bisa dibagi dengan penumpang lain jika ingin irit. Jika dihitung, harga tersebut sangat menguntungkan wisatawan dengan keindahan empat titik Bromo yang didapat.

Rutenya meliputi gunung Pananjakan Satu (2.770 m dpl) dengan jalan menanjak yang sangat terjal, bukit Kingkong, padang pasir, serta padang savana dengan pemandangan bukit-bukit Teletubbies.

Untuk memasuki kawasan wisata taman nasional Bromo Tengger Semeru, wisatawan lokal akan dikenakan biaya sebesar total Rp.37 ribu. Dari biaya tersebut, Rp 27.500 masuk ke taman nasional, sisanya untuk retribusi kabupaten. Sementara tarif tiket masuk untuk wisatawan mancanegara naik menjadi Rp 217 ribu dari tarif sebelumnya Rp 57 ribu per Mei lalu. Semua harga tersebut sudah termasuk asuransi

Jika kondisi sedang ramai, coba minta kepada supir untuk dijemput lebih awal. Biasanya mereka naik pukul 03.00 WIB. Tapi saat itu juga semua rombongan naik dan jalan menuju Pananjakan Pertama hanya muat dua mobil saja. Otomatis perjalanan terhambat karena macet dan resiko tertinggal matahari terbit dari pemandangan di atas bisa terlewat.

Namun ada alternatifnya yaitu Bukit Kingkong yang menjadi tempat favorit ketika Pananjakan pertama mulai dipadati. Jaraknya hanya terpaut beberapa ratus meter saja. Di bukit ini biasanya dipadati oleh wisatawan asing.

Benar saja, ketika saya sampai pukul 03.00 WIB, sejumlah turis asal Jepang sudah bersiap pada posisinya dengan perlengkapan kamera dan tripod. Mereka tengah bersiaga menanti sang fajar tiba. Tak berapa lama tempat tersebut sudah sesak dipadati wisatawan lainnya baik lokal dan mancanegara.

Angin bertiup semakin kencang, udara dingin semakin menusuk ke tulang walaupun sudah tiga lapis pakaian dikenakan termasuk jaket. Namun jangan khawatir, karena di bukit itu ada penjual minuman panas mulai dari kopi, teh, dan sereal hingga mie instan. Selain itu ada juga yang menyewakan jaket tebal.

Dari kejauhan ada sinar lampu para pendaki beriringan menanjak puncak Mahameru. Fajar pun menyinsing tepat di hadapannya. Dari bukit Kingkong wisatawan dimanjakan dengan dua pemandangan alam yang memesona. Selain kilau fajar oranye dan biru langit berpadu kemudian semakin memerah di sebelah timur, wisatawan juga bisa menikmati kompleks pegunungan di Kaldera Tengger di sisi barat.

Saat cuaca cerah , sajian alam terserbut menjadi pemandangan yang mengesankan. Sambil menunggu matahari terbit, wisatawan disuguhi hamparan bintang dengan rasi-rasinya yang begitu jelas. Indah!

Belum lagi suara desir angin di dari Kaldera Tengger yang terdengar membuat suasana semakin syahdu. Perlu waktu untuk menanggalkan kamera sejenak dan menutup mata sambil menghirup udara segar dalam-dalam dan kemudian merilisnya dengan diiringi suara angin yang berdesis.

Setelah puas menikmati matahari terbit dengan perjuangan melawan dinginnya Bromo. Sekitar pukul 07.00 saya dibawa turun kembali ke padang pasir, rute yang semalam dilewati untuk menuju Pananjakan pertama. Di sana wisatawan bisa menikmati pemandangan Kaldera Tengger dari sudut yang berbeda.

Saat di padang pasir, Jip akan parkir cukup lama dan wisatawan bisa beralih menyewa kuda dengan harga yang bervariasi tergantung negosiasi. Dengan kuda itu Anda bisa pure dan kawah yang bisa ditanjaki sendiri dengan 200 anak tangga. Kemudian wisatawan akan dibawa ke padang savana dan kemudian kembali ke penginapan.

Petualangan belum usai. Saya masih harus berjibaku mencari tumpangan untuk menuju bandara Juanda, Surabaya. Perjalanan dari penginapan butuh waktu tak kurang dari 3 jam. Paling tidak saya harus berangkat pukul.13.00 karena mengejar penerbangan Garuda Indonesia pukul. 18.40 WIB.

Akhirnya saya mendaptkan tumpangan dari tim liputan salah satu televisi swasta yang juga meliput event yang sama. Walaupun berat rasanya meninggalkan Bromo begitu cepat, tanggung jawab sebagai seorang jurnalis untuk menuntaskan tugas selanjutnya tidak bisa ditawar lagi.

Jeda waktu beberapa jam tersebut saya manfaatkan untuk beristirahat dan memejamkan mata dalam-dalam. Penuh siasat untuk mengakali waktu memang sudah pasti dilakukan demi mambaca bintang dan menanti sang fajar di bukit-bukit selanjutnya bersama Garuda Indonesia. (Fik)

*) Sebagian isi tulisan pernah di muat dalam rubrik Travelista Media Indonesia bulan Juni.

14
Aug
14

Harapan Besar Bagi Para Pelaku Seni

Jokowi usai berorasi di Konser Salam Dua Jari, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (5/7)

Jokowi usai berorasi di Konser Salam Dua Jari, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (5/7)



Penulis: Dzulfikri Putra Malawi Foto: Dzulfikri Putra Malawi

Lagu Salam Dua Jari berkumandang di stadion Gelora bung Karno, Jakarta.
Semangat perubahan terus disuarakan para pelaku seni di atas panggung.

Serentak lagu Indonesia Raya dikumandangkan di stadion Gelora Bung Karno,
Sabtu(5/7). Lagu kebangsaan Indonesia ini dipimpin langsung oleh
jajaran pelaku seni seperti dari lintas generasi seperti Titiek Puspa,
Edo Kondologit, Yuni Sarah, Yovie Widianto, Yuki Pas Band, Glenn Fredly,
dan Giring Nidji. Setelahnya Surya Paloh langsung memberikan orasi di depan ribuan
masyarakat yang hadir dalam Konser Dua Jari. "Sembilan hari ke depan
adalah hari yang menentukan perubahan Indonesia. Bangsa ini butuh
pemimpin yang lahir dari rakyat dan peduli dengan rakyat. Perubahan itu
akan dipimpin oleh Jokowi!" Serunya. Hadir pula Puan Maharani bersama tim
pemenangan nasional Jokowi-JK. /rif pun langsung menghentak dengan beberapa tembang yang dibawakan,
salah satunya berjudul Raja. "Kami senang sekali bisa berkontribusi dalam
konser ini, konser yang menyenangkan, ini bentuk dukungan kami kepada
Jokowi," ungkap vokalis /rif, Andy saat turun panggung. Dirinya berharap langkah Jokowi dengan program ekonomi kreatif mampu
memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para pelaku seni di Indonesia.
Hal senada juga disampaikan Mira Lesmana, "semua sadar betul Jokowi
mengusung ekonomi kreatif. Suara masyarakat terlihat di sini menuju
kemenangan Jokowi." Konser yang digagas gitaris Slank, Abdee Negara ini menghadirkan ratusan
pelaku seni yang berkontribusi dalam satu panggung. "Konser ini ingin
mengembalikan persatuan dan kebhinekaan lewat musik," kata inisiator
Konser Dua Jari, Abdee Slank. Tembang-tembang populer seperti Rumah Kita dan Indonesia Pusaka yang
dibawakan pengisi acara, dinyanyikan serempak pula oleh para penginjung.
Walaupun dalam keadaan berpuasa, antusias masyarakat dan para pengisi
acara yang hadir tidak surut. Mereka tetap bernyanyi dan berorasi dengan
penuh semangat. Satu jam jelan buka puasa, giliran Slank yang menyanyikan karyanya
berjudul Mars Slank, dalam liriknya terdapat kalimat "di sini orang-orang
penuh kreatifitas," dan Jokowi pun didampingi Anies Baswedan tiba di
stadion Gelora Bung Karno. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu Salam Dua jari. Kaka Slank juga
mengajak para masyarakat yang hadir untuk bernyanyi bersama, "ini lagu
yang hanya sebulan dibuat dan langsung menjadi populer," ujarnya di atas
panggung. Jokowi dalam orasinya mengatakan "Izinkanlah kakakmu ini menunjukkan jalan kepada Indonesia yang lebih
baik, kami datang untuk membawa kebaikan bukan membawa konflik baru,"
ujar Jokowi ke arah kelompok mahasiswa yang hadir di Gelora Bung Karno. BERGERAK SEREMPAK Beragam pelaku seni dari berbagai generasi juga hadir di sini.
Gita Gutawa bersama keluarga sengaja menyempatkan dirinya untuk bisa
hadir. "Sebagai anak muda harus berani mengungkapkan pilihannya," ujar 
Gita. Dukungan tidak hanya datang dari musisi, insan perfilman juga ramai-ramai
merapat. "Walaupun bukan terbagung dalam federasi yang formal, para
pelaku seni memberikan gerakan yang nyata lewat karya-karyanya yang
dibuat untuk kampanye Jokowi," kata Mira Lesmana. Selain itu musisi dari Bandung dan Yogyakarta juga turut hadir. Yuki
Pas Band, Richard Muller, Deni Utopia, dan kawan-kawan sengaja datang
ke Jakarta untuk memberi dukungan langsung kepada Jokowi, "kami ingin
punya pemimpin yang dekat dan ada di antara kita, saya hanya menyatakan
sikap bukan menghasut pilihan masyarakat," kata Yuki. Kill The DJ pun
turut menyumbangkan lagu bersama Butet Kartarajasa mewakili seniman
Yogyakarta. Musisi senior Sam Bimbo juga terlihat di sini, "saya baru dikabarkan
kemarin malam, kami berada di sini karena merasa nyaman dan ada harapan,"
ungkapnya. Abdee mengatakan "Seluruh artis maupun pelaku ekonomi kreatif yang
terlibat dalam gerakan revolusi mental ini tidak dibayar. Kami bergerak
sukarela demi perubahan," ungkap Abdi. (FIK)
14
Aug
14

Aksi Sosial Lewat One Man Band

Yon Gondrong saat di foto di Kebun Bunga Lestari, tempat ia bekerja sehari-hari di kawasan Sanur, Bali (28/5).

Yon Gondrong saat difoto di Kebun Bunga Lestari, tempat ia bekerja sehari-hari di kawasan Sanur, Bali (28/5).

Penulis: Dzulfikri Putra Malawi

Fotografer: Dzulfikri Putra Malawi

 

Bermain musik seorang diri, beramal jadi panggilan hati.

 

Pria asal Malang, Lestariyono, 45, yang sudah menetap di Bali sejak tahun 1997 ini punya satu sajian musik yang unik.Ia mampu memainkan lebih dari satu instrumen secara bersamaan. Masyarakat mengenalnya dengan one man band.

Sajian musik seperti ini bukan pertama kalinya ada di dunia. Pria yang akrab disapa Yon Gondrong ini juga mengakumendapat insprasi dari saluran Youtube dan saat berada di Jerman tahun 2007 ia melihat secara langsung penampilan seorang one man band.

Namun di Bali ia hanya satu-satunya orang yang menjadi one man band. Instrumen drum lengkap dengan cymbal, gitar, harmonika, dimainkan secara bersamaan sambil diselingi nyanyian. Yon membuatnya dari barang bekas seperti batang kain pel untuk kerangkanya.

Saat ini Yon sering tampil di berbaga cafe di Bali. Dalam setiap penampilannya, Yon selalu menyelipkan canda, “ini konsep yang saya bangun, karena sebagai one man band sangat rentan gagal untuk memainkan lagu secara benar dari awal sampai akhir, akhirnya lagu yang saya mainkan saya buat parodi,” ungkapnya.

Berkat keunikan instrumennya, Yon yang mengagumi Iwan Fals dan Sawung Jabo berkesempatan  untuk bermain pada pembuka konser Sirkus Barock akhir tahun lalu, “rasanya seperti mimipi jadi kenyataan, saya bawakan lagu Bongkar lalu Sawung Jabo terlihat senang dan tertawa karena saya membawakannya dengan balutan canda,” kenang Yon.

 

PEDULI PENGHIJAUAN

Selain bermusik, Yon sebenarnya memiliki sebuah kebun tanaman. Setiap harinya ia merawat untuk dijual kemudian. Tidak jarang orderan untuk membuat taman pun kerap dilakoni.Ayah dari dua anak ini memang tidak lepas dari dunia musik. Bahkan salah satu anaknya pun bisa bermain piano dengan apik.

Lantaran sudah berkeluarga, Yon menganggap musik hanya sebagai hobi saja. Untuk memberikan manfaat kepada dirinya, lewat musik, Yon pun melakukan aksi sosial.

Hasil yang dihimpun dari tiap penampilannya selalu diberikan untuk melakukan penanaman di berbagai daerah. Bersama organisasi OI, ia menghijaukan tanah Bali. “Tempatnya bisa dimana saja, saya juga bekerjasama dengan dinas pertamanan untuk mendapatkan bibit,” pungkas Yon.

Bagi Yon hal yang dilakukannya ini adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan dengan apa yang sudah diberikan Nya. Ia menyadari keahliannya dalam bermusik merupakan pemberian Tuhan kepadanya untuk dapat bertahan hidup, mulai dari jalanan hingga memiliki keluarga kecil yang bahagia. (FIK)

18
Jan
14

Pembicaraan bisnis anak band. – with Rio at 2H+ studio

View on Path

14
Jan
14

“Loosing My Mind”
Song by: Isa Raja
Perform by: Isa Raja & compromised EGO
Cast: Voc-Isa Raja, Djembe-Fikridzul, Guitar-Randa, Cajon-Iam – with Randa, Isa, and ILham ‘iaM’

View on Path

16
Aug
12

Nina Persson of Frame – The Cardigans

Explode!The Crew - Orang di balik layar kadang terlupakanNina 'HULK' Persson

The Cardigans, a set on Flickr.

The Cardigans Live at Tennis Indoor Senayan, Jakarta, 14 August 2012

21
Dec
11

Untuk Ia yang Melahirkan Kami

ilustrasi oleh: http://maulidamulyarahmawati.wordpress.com/2011/06/26/

Dari balik selimut pikiran ini membuahkan tulisan untuk para ibu. Ketika melahirkan saya ke dunia, mungkin  para ibu pun berproduksi dengan para ayah di balik selimut. Anda jangan berpikiran negatif dulu! Maknai apapun perkataan yang tersusun tidak sistematis ini.

Ibu, mama, bunda, mami, umi, apapun sebutan bagi wanita yang telah melahirkan kami ke dunia tidak pernah dipermasalahkan. Pada hakikatnya itu hanya panggilan sebagai tanda pengenal kalau ia memang seorang wanita yang sudah dewasa dan berani mengambil keputusan untuk berkeluarga. Tapi di dunia ini banyak juga ibu yang yang memaksakan dirinya untuk dewasa dan berani berkeluarga. Banyak pemikiran dan pertimbangan yang diambil tentunya, entah karena ambisi antar keluarga atau tidak kuat menahan hawa nafsu yang berujung pada pernikahan dini.

Tak perlu dipermasalahkan soal pernikahan dini. Memaksakan kedewasaan atau dewasa pada saatnya, sang ibu memang sungguh istimewa. Ia bahkan  lebih bertanggung jawab daripada sang ayah. Ia pun berani untuk menyatakan “saya ingin anak ini lahir..” ucapan yang tentu ditakuti calon ayah yang tidak bertanggung jawab.

Ibu, manusia yang mengalami metamorfosa sempurna. Dari lendir ayah yang dibuahi menjadi seorang janin yang bernyawa, berubah menjadi bayi dalam dekapan, tumbuh menjadi gadis kecil yang menggemaskan, beranjak gadis remaja dan disukai pria, berani melepas keperawanannya untuk pria yang dianggap pantas mendapatkannya, dan membuahi turunannya.

Indah dunia rasanya bila kita memiliki banyak ibu. Tapi itu tidak mungkin karena kita hanya memiliki satu ibu kandung. Tapi sifat ibu yang mengayomi dan menyayangi  itulah yang membuat kita ingin memiliki banyak ibu, tak jarang dari kita mengganggap ibu teman kita seperti ibu kandung sendiri. Itulah keistimewaan yang dianugerahi Tuhan untuk ibu. Ibu banyak memberi pelajaran disaat kita bodoh tentang kehidupan, ibu memberi petunjuk di saat kita lupa akan arah dan tujuan.

Tapi apakah kita menyadari fenomena yang terjadi ketika panggilan Ibu, mama, bunda, mami, umi sudah tidak dihargai lagi? Anda pasti pernah mendengar panggilan mami untuk wanita yang menjajakkan wanita juga?hmmm…terdengar aneh bukan? Di saat kami menyelamati Ibu, mama, bunda, mami, umi dengan “hari ibu” tapi justru ia menjual wanita yang nantinya akan menjadi Ibu, mama, bunda, mami, umi juga. Itulah Ibu, mama, bunda, mami, umi, ternyata ia “menjajakkan” untuk menyekolahkan anaknya, dan wanita yang “dijajajakkan”  pun ingin membekali dirinya untuk menjadi Ibu, mama, bunda, mami, umi nantinya. Ituah realitas sosial, kita paham tapi tutup mata dengan benteng adat istiadat dan akidah.

Wanita sangat suka bersolek lama-lama di depan cermin, sebetulnya bukan hanya untuk menata dirinya saja. Tapi dibalik itu ia paham cerminan dirinya. Keputusannya untuk menjadi mami atau wanita tuna susila memiliki maksud tersendiri. Dan ia paham juga cerminan dirinya yang terjebak dalam fenomena sosial tersebut bukan kehendaknya, situasilah yang menggiringnya.

Ibu, mama, bunda, mami, umi, dan sebagainya adalah wanita, wanita yang sepatutnya memang harus kita hormati dengan berbagai problema yang dihadapi. Mereka menjadi jebakan bagi pria yang haus dengan kecantikan dan keseksian yang mereka miliki. Mereka sarat dengan misteri yang menghantui rasa penasaran sang lelaki. Mereka memiliki daya tarik yang hakiki. Dengan parasnya mereka mampu menggenggam dunia. Dan satu hal, mereka punya cara sendiri untuk menyayangi anak-anaknya.

Saya dedikasikan tulisan ini untuk ibu saya, kamu, mereka, dan kalian. Tak perlu diucapkan, ibu pun tau saya sangat sayang dengannya. Selamat hari ibu untuk ibu saya, kamu, mereka, dan kalian.  (fikri)

sumber ilustrasi visual: http://maulidamulyarahmawati.wordpress.com/2011/06/26/ibu/